Kegiatan BRIK

 

A. Registrasi ETPIK

 

Sampai dengan 11 Mei 2007 ETPIK yang telah melakukan registrasi sebanyak 4.428 yang terdiri dari :
  • Kelompok panel kayu         :   153

  • Kelompok woodworking      : 1.948

  • Kelompok pulp & kertas     :    111

  • Kelompok furniture             : 2.556

  • Kelompok kerajinan            :    656

(Catatan : Industri terintegrasi dihitung 1 ETPIK)

 

B. Endorsement

Endorsement adalah proses pengesahan untuk ekspor produk industri kehutanan yang diajukan oleh ETPIK yang telah terdaftar sebagai anggota BRIK. Ketentuan mengenai endorsement tertuang dalam Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 32/MPP/Kep/I/2003 tentang Ketentuan Ekspor Produk Industri Kehutanan, kemudian diubah dengan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 647/MPP/Kep/10/2003 dan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 02/M-DAG/PER/2/2006, dan terakhir Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 09/M-DAG/PER/2/2007. Sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh Pemerintah, maka BRIK hanya memberikan endorsement kepada dua kelompok industri yaitu industri panel kayu dan woodworking.

C. Verifikasi Industri

Verfikasi industri dilakukan guna mendata kembali keabsahan dokumen perijinan, keberadaan perusahaan, aktivitas produksi dan ekspor ETPIK. Proses verifikasi dilaksanakan oleh instansi pemerintah dan/atau surveyor independen. Dari 4.428 ETPIK, yang telah dilakukan verifikasi oleh PT Sucofindo berjumlah 832 ETPIK. Di samping itu, BRIK sendiri dan/atau bersama instansi pemerintah terkait sejak tahun 2003-2006 pernah melakukan kunjungan/pemeriksaan lapangan terhadap 117 ETPIK.

D. Verifikasi Ekspor Produk Tertentu

Verifikasi ekspor bertujuan untuk memastikan bahwa produk yang diekspor adalah produk kayu olahan yang sudah mengalami proses lanjutan dan bernilai tambah lebih tinggi.

Kemudian untuk mendukung kegiatan verifikasi ekspor, BRIK telah mengintegrasikan data endorsement harian dengan Ditjen Perdagangan Luar Negeri, yang kemudian dapat diakses setiap waktu oleh surveyor yang ditunjuk.

E. Data Ekspor

BRIK menghimpun data ekspor panel kayu dan woodworking terhitung mulai 15 Maret 2003, berdasarkan Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB), Packing List, Invoice, dan Bill of Lading yang dikirim oleh ETPIK. Data ekspor dapat diakses secara online.

F. Keikutsertaan pada Pertemuan Internasional

BRIK juga turut aktif dalam pertemuan internasional bidang kehutanan seperti  :

  • Annual Meeting ITTO

  • ASEAN Senior Official on Forestry

  • Asia FLEG, FLEGT-VPA

  • International Workshop yang diselenggarakan oleh World Bank, European Commission, dll. 

 
 

Beberapa forum internasional telah diikuti oleh pengurus BRIK antara lain :

 

 

A. Seminar mengenai analisa pasar perumahan di Beijing, China pada tanggal 12 Agustus 2003, yang dihadiri oleh Ketua Bidang Pemasaran. Dalam rangka mempercepat pembangunan perumahan dan mendorong rakyatnya untuk membeli rumah, maka Pemerintah China telah mengadakan perubahan kebijakan. Pemerintah China juga merencanakan renovasi rumah-rumah kumuh di sekitar Beijing dan akan diteruskan ke kota-kota lain di seluruh China. Diharapkan pada tahun 2008, setiap warga China sudah mempunyai rumah sendiri.

 

 

B. Seminar “Sourcing Legal Timber from Indonesia” di London, Inggris pada tanggal 6 Februari 2004 yang dilanjutkan dengan pertemuan antara delegasi RI dipimpin oleh Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan didampingi oleh anggota pengurus BRIK dan 10 wakil dari industri perkayuan serta pejabat KBRI London, dengan wakil Pemerintah Inggris dari Department for International Development (DFID) dan wakil dari UK TTF (Timber Trade Federation) membahas masalah “scooping study”. Dalam seminar tersebut, Dirjen Bina Produksi Kehutanan telah menyampaikan presentasi mengenai MoU tentang illegal logging dan ASIA FLEG. Sedangkan BRIK memaparkan mengenai sistem endorsement. Sistem yang dibangun oleh BRIK didasarkan antara lain atas dokumen legalitas kayu yaitu Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan (SKSHH) yang merupakan proses mandatory.

Scooping study oleh TFT yang hanya ditujukan kepada industri perkayuan Indonesia tidak dapat diterima oleh DELRI karena tidak adil dan diskriminatif.

 

 

C. Pertemuan ke-4 AdHoc Working Group mengenai PAN ASEAN TIMBER CERTIFICATION pada tanggal 9 – 11 Desember 2004 di Philipina, yang dihadiri oleh Wakil Sekjen BRIK. Pada kesempatan tersebut Indonesia melaporkan perkembangan dan hasil yang dicapai dalam C & I untuk SFM dan pelaksanaan sertifikasi di Indonesia.  

 

 

D. Pembahasan MOU antara Pemerintah R.I dengan Pemerintah Malaysia dalam pemberantasan Illegal logging dan illegal trade tanggal 17 – 18 November 2005 di Kuching Sarawak. Peserta dari BRIK dalam DELRI diwakili oleh Direktur Eksekutif. Hasil pertemuan (1) Pemerintah Malaysia memahami posisi Indonesia karena menurut peraturan perundangan yang berlaku tidak memungkinkan untuk membuka ekspor logs dan sawn timber. (2) Usulan Malaysia untuk memasukan dalam artikel 1. OBJECTIVES tentang Facilitating Traditional Border Trade tidak dapat disetujui Indonesia karena perdagangan tradisional di daerah perbatasan sebenarnya tidak ada, yang terjadi adalah masyarakat dimanfaatkan oleh pemilik modal untuk melakukan kegiatan perdagangan kayu illegal. Terhadap hal ini kedua belah pihak belum mencapai kesepakatan.

 

 

E. The Second Working Meeting of The ASIA FLEG Task Force and Advisory Group tanggal 7 -9 Maret 2006 di Manila. Acara ini dihadiri oleh peserta dari Australia, Brunei, Cambodia, China, Indonesia, Malaysia, Philippines, dan Vietnam. Masing-masing negara mempresentasikan perkembangan pembangunan kehutanannya dan kehadiran Malaysia serta China memperkuat kepemilikan proses FLEG di Asia dan Pasifik. Peserta dari BRIK diwakili oleh Direktur Eksekutif.

 

 

F. Workshop On Trade in Wood products di Kuala Lumpur Malaysia, tanggal 24 – 25 Mei 2006 yang diselenggarakan Komisi Eropa. Workshop ini bertujuan untuk memberikan informasi terutama kepada produsen kayu tropis di Asia tentang rencana Pemerintah Uni Eropa memberlakukan ketentuan legalitas dan sustainabilitas produk-produk industri kehutanan yang dipasarkan di Uni Eropa. Peserta dari BRIK adalah Direktur Eksekutif.